'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Sosialisasi Fiqih Romadhon Untuk Penyegaran- Majelis Tabligh PDA Karanganyar
02 Mei 2019 05:35 WIB | dibaca 195

 

Ummie Masruroh Sampaikan Materi

Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Aisyiyah Karanganyar Sosialisasikan Tuntunan Ramadhan. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut kegiatan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Karanganyar di Majelis Ta'lim Ummahat Al Ikhlas Badranmulyo, Rabu, 1 Mei 2019 jam 15.45- 17.30 di rumah ibu Ery Sumarno, M.Si.

 

Kegiatan diikuti oleh 26 orang. Acara dipimpin oleh Sujiharti S.Pd. Adapun susunan acara sebagai berikut: 1. Dimulai membaca basmallah. 2. Tilawah al Qur'an dan maknanya Surat Annisa ayat 52-55, dipandu oleh Ummie Masrurah, S.Ag 3. Membaca Sayyidul istighfar dan asma'ul husna dipandu oleh Era Prihatin, S. Psi 4.

Jsmaah Ikuti Kajian Sos Fiqih Romadhon

Inti pengajian disampaikan oleh Ummie Masrurah, S.Ag, Anggota Majelis Tabligh Devisi Pembinaan Pengajian PDA Karanganyar. Inti kajian: Sebagai prolog menyampaikan, setiap muslim dan muslimah mempersiapkan diri pribadi baik secara lahir maupun batin dan memperbanyak melakukan puasa sunat di bulan sya'ban. Dasar kewajiban Shiyam Ramadhan surat Al Baqoroh ayat 183: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183) Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadhan adalah muslimin dan muslimat yang mukallaf. Orang yang tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan dan mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan adalah perempuan haid dan nifas dibulan Ramadhan. Orang yang diberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan wajib mengganti puasanya diluar bulan Ramadhan : 1. Orang yang sakit biasa di bulan Ramadhan. 2. Orang yang sedang bepergian ( musafir). Orang yang boleh meninggalkan puasa dan mengganti dengan fidyah 1 mud ( 0.5 kg )atau lebih makan pokok untuk setiap harinya: 1. Orang yang tua renta 2. Orang yang sakit menahun 3. Perempuan hamil 4. Perempuan yang menyusui. Hal-hal yang membatalkan puasa dan sanksinya : 1. Makan minum disiang hari pada bulan Ramadhan, puasanya batal, dan wajib menggantinya di luar bulan ramadhan. 2. Senggama suami-istri di siang hari pada bulan Ramadhan, puasa batal, wajib mengganti puasanya dan wajib membayar kifarat, berupa memerdekakan seorang budak, kalau tidak mampu harus puasa 2 bulan berturut-turut, kalau tidak mampu harus memberi makan 60 orang miskin, setiap orang 1 mud makanan pokok. Hal-hal yang harus dijauhi selama Berpuasa: 1. Berkata kotor, berbohong, memfitnah, mencaci maki, menipu, berkelahi, membuat gaduh, mengganggu orang lain dan segala perbuatan yang tercela menurut ajaran islam. 2. Berkumur atau istinsyaq secara berlebihan. 3. Mencium istri/suami di siang hari, jika tidak mampu menahan syahwat. Peserta mengikuti kajian dengan antusias, interaktif, dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai : 1. Berapa batas minimal jarak tempuh safar? Jawab: Tidak ada dalil yang shahih lagi tegas tentang penentuan jarak minimal safar yang memperbolehkan jama' dan Qoshar, Nabi tidak pernah menentukan jarak untuk dinamakan safar, Beliau menamakan safar pada perjalanan setengah hari 1 barid( 21 km), 1 hari ( 42 km), 2 hari ( 85 km), 3 hari ( 135 km). 2. Setelah shalat witir apakah boleh shalat tahajjud? Jawab : Tidak ada dua witir dalam semalam. لا وتران في ليل Dalam hal ini ada 2 opsi 1. Melaksanakan shalat witir bersama imam sampai selesai, kemudian melakukan shalat malam dengan jumlah rakaat yang diinginkan dan dengan bilangan genap tanpa shalat witir. 2. Melaksanakan shalat witir bersama imam, namun ketika imam mengucapkan salam, orang tersebut tidak ikut salam, namun menambah satu rakaat, bisa mengerjakan shalat dengan jumlah rakaat yang diinginkan dan mengerjakan shalat witir di akhir malam. Perlu digaris bawahi, bahwa opsi pertama lebih utama dan lebih terjaga dari riya'. 3. Bagaimana pengaturan shaf bagi perempuan? Jawab: a. Ketentuan untuk meluruskan shaf, merapatkan shaf, mengisi celah yang kosong berlaku untuk laki-laki dan perempuan. b. Jika seorang wanita menjadi imam sesama wanita, maka imam wanita berdiri ditengah tengah shaf pertama, sebagaimana yang dilakukan Aisyah dan ummu salamah. c. Apabila wanita menjadi makmum laki-laki maka perempuan berdiri dibelakang imam, bukan berdiri disamping imam. Sumber: Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari