'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Silaturahmi Majelis Tabligh PDA Karanganyar bersama IGABA Kecamatan Kebakkramat
13 Oktober 2020 20:02 WIB | dibaca 46

Majelis Tabligh PDA Karanganyar, silaturahmi bersama IGABA Kecamatan Kebakkramat  Sabtu, 10 Oktober 2020, diikuti oleh 30 orang guru TK Aisyiyah.

Acara dimulai dengan membaca juz 'amma, dilanjutkan sambutan ibu Mahmudah Majelis Dikdasmen PDA Karanganyar, beliau melaporkan kegiatan IGABA selain mengadakan kajian juga tahsin dengan cara tutorial antar kelompok guru TK untuk belajar membaca Al Qur'an.

Acara dilanjutkan kajian dengan tema "Sikap Seorang Mukmin dalam Menghadapi Pandemi Covid-19", disampaikan oleh Ummie Masrurah. Saat ini umat manusia berada dalam suasana pandemi global. Hal ini dirasakan oleh hampir seluruh dunia termasuk Indonesia. Dalam keadaan wabah seperti ini, upaya yang harus dilakukan adalah tetap merawat sikap yang benar. Ketika datang ancaman kesehatan, orang perlu perhatian serius dengan sikap yang tepat.

“Dalam pesan Rasul menegaskan bahwa kesehatan harus dijaga dengan baik". Hadis Nabi tentang lima hal sebelum datang lima hal yang lain, salah satunya ialah menjaga kesehatan sebelum datang sakit. Karena menjaga kesehatan sebagai perintah yang disampaikan Rasul, maka kita harus senantiasa merawatnya dengan baik. Itu bagian dari ibadah.

Kesehatan mungkin bukan segala-galanya, tapi  tanpa anugrah sehat dari Allah, segalanya tak dapat dinikmati dengan baik.Mengutip Sabda Nabi yang menyatakan bahwa ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.

“Bagaimana sikap kita? Ada sebagian sikap kaum muslim yang mengatakan bahwa bukankah kematian itu di tangan Allah? Kalau Allah menjadikan sehat ya sehat, kalau sudah sakit ya sakit. Padahal kita perlu ikhtiar dalam menyikapi pandemi global ini.

Kita justru takut kepada Allah, maka menghadapi virus ini harus dengan sesuai tuntunan-Nya. Pada saat wabah terjadi di zaman Rasul, beliau memberi tuntunan dalam sebuah hadis yang isinya ketika di suatu tempat ada wabah, maka tidak boleh orang yang berada di lingkungan wabah itu keluar dari tempat itu. Dan orang yang di luar tidak boleh masuk ke dalam tempat wabah beredar. Tuntunan dari Rasul tersebut merupakan sebagai bagian dari ikhtiar.

“Di antara ikhtiar-ikhtiar sebagai akhlak kita, agar kita yang sehat supaya tidak jadi bagian yang tertular covid-19. Ini penting". Karena kalau kita salah dalam mengambil sikap, virus dapat menimpa dan memperburuk kesehatan kita.

Satu-satunya kepastian di masa depan adalah kematian. Waktu kematian seseorang memang sudah ditentukan Allah. Namun, kematian merupakan peristiwa yang misterius sehingga manusia harus berupaya untuk tetap merawat kehidupan dengan baik. Berdasarkan  QS. Al-A’raf ayat 34 :

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚ فَاِ ذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

"Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 34)

Sebagai seorang mukmin tentunya panutan kita adalah Nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah.

Sikap seorang mukmin dalam menghadapi wabah covid -19 antara lain:
1. Ikhtiar physical distancing, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan lain-lain, semua adalah akhlak seorang mukmin ketika menghadapi Covid-19.

2. Secara keilmuan lawannya adalah sistem imun manusia. Pertahanan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk saat ini  adalah imunitas masing-masing. Maka ketika vaksin anti virus belum ditemukan, kita berusaha menjaga bagaimana agar tubuh tetap dalam kondisi optimal.
Cara agar imun tetap optimal :
pertama, makan makanan yang halal dan thayyib, yang mengandung nutrisi yang baik, yang dibutuhkan oleh tubuh. Jadi bukan hanya halal tetapi juga harus thayyib untuk tubuh kita.
Kedua, istirahat yang cukup. Rasul pernah mengingatkan sahabat yang malamnya terus dipakai ibadah, dengan mengatakan bahwa semua tubuh itu memiliki hak untuk istirahat agar seluruh tubuh tidak mudah rapuh.
Ketiga, kita jaga emosi, tetap optimis. Tidak perlu galau dan cemas, apalagi panik dan marah-marah sampai memiliki pikiran negatif. Dalam kondisi emosi negatif, sistem imun dalam tubuh kita akan turun. Karenanya, kita harus tetap semangat.

3. Dalam menyikapi wabah global ini disikapi dengan optimis bahwa semuanya akan berakhir. Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan Muslim menyebutkan bahwa setiap penyakit yang Allah turunkan akan disertai dengan obatnya.
Yang lebih penting lagi, selain menjaga kesehatan fisik dan mental, kita harus bangun peran spiritual dengan baik. Spiritual harus tetap dijaga, baca al Quran dan shalat malam harus tetap berjalan.

4. Ikhtiar lain yang tidak kalah penting berdoa kepada Allah agar tidak menjadi bagian yang terkena wabah sekaligus mendoakan mereka yang telah jadi pasien positif Covid-19. Doa adalah kekuatan orang beriman. Doa bisa menyelamatkan seseorang dari bencana.

5. Menjadi bagian orang yang membawa solusi terhadap permasalahan di masyarakat.
Sebagaimana sabda Rasul yang menegaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaat kepada sesamanya.

6. Sikap  seorang mukmin menyikapi Covid-19, berhati-hati dalam menerima informasi di dunia maya.

Sumber : Pengajian  Tarjih ke 85 disampaikan oleh ustadz Agus Taufiqurahman
Editor : LPPA PDA Kra

Shared Post: