'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Safari Romadhon Majelis Tabligh PDA Karanganyar- Perkuat Fiqih Romadhon
11 Mei 2019 05:19 WIB | dibaca 295

 

 

Majelis

Tabligh Pimpinan Daerah Aisyiyah Karanganyar Sosialisasikan Tuntunan Ramadhan, sebagai tindak lanjut kegiatan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Karanganyar, di Pimpinan Ranting Aisyiyah Gebyok Mojogedang Karanganyar, Kamis, 9 Mei 2019 jam 16.00- 17.15 di Masjid Baiturrahim Diikuti oleh 70 orang. Acara dipimpin oleh Warni S.Pd. Adapun susunan acara sebagai berikut: 1. Dimulai membaca basmallah. 2. Tilawah al Qur'an dan maknanya dipandu oleh Warni, S.Pd. 3. Inti pengajian disampaikan oleh Ummie Masrurah, S.Ag, Anggota Majelis Tabligh Devisi Pembinaan Pengajian PDA Karanganyar. Inti kajian: Sebagai prolog mengajak jama'ah untuk mengambil bagian dari keberkahan dan keutamaan bulan Ramadhan dengan melakukan ibadah, dzikir, membaca al qur'an, bersedekah, sehingga bisa mencapai derajat muttaqin. Dasar kewajiban Shiyam Ramadhan surat Al Baqoroh ayat 183: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183) Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadhan adalah muslimin dan muslimat yang mukallaf. Orang yang tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan dan mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan adalah perempuan haid dan nifas dibulan Ramadhan. Orang yang diberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan wajib mengganti puasanya diluar bulan Ramadhan : 1. Orang yang sakit biasa di bulan Ramadhan. 2. Orang yang sedang bepergian ( musafir). Orang yang boleh meninggalkan puasa dan mengganti dengan fidyah 1 mud ( 0.5 kg )atau lebih makan pokok untuk setiap harinya: 1. Orang yang tua renta 2. Orang yang sakit menahun 3. Perempuan hamil 4. Perempuan yang menyusui.

Hal-hal yang membatalkan puasa dan sanksinya : 1. Makan minum disiang hari pada bulan Ramadhan, puasanya batal, dan wajib menggantinya di luar bulan ramadhan. 2. Senggama suami-istri di siang hari pada bulan Ramadhan, puasa batal, wajib mengganti puasanya dan wajib membayar kifarat, berupa memerdekakan seorang budak, kalau tidak mampu harus puasa 2 bulan berturut-turut, kalau tidak mampu harus memberi makan 60 orang miskin, setiap orang 1 mud ( 2.5 kg) makanan pokok. Hal-hal yang harus dijauhi selama Berpuasa: 1. Berkata kotor, berbohong, memfitnah, mencaci maki, menipu, berkelahi, membuat gaduh, mengganggu orang lain dan segala perbuatan yang tercela menurut ajaran islam. 2. Berkumur atau istinsyaq secara berlebihan. 3. Mencium istri/suami di siang hari, jika tidak mampu menahan syahwat. Amalan-amalan yang dianjurkan selama berpuasa: 1. Mengerjakan qiyamul lail di malam bulan Ramadhan. 2. Mengakhirkan makan di waktu sahur 3. Menyegerakan berbuka sebelum shalat maghrib. 4. Berdoa ketila berbuka puasa dengan doa yang dituntunkan, yang menunjukkan kepada rasa syukur kepada Allah, sebagaimana diterangkan dalam hadits: Dzahabat zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru insya Allah. ( Hilanglah rada haus dan basahlah urat-urat badan dan insya Allah mendapatkan pahala ( HR Abu Dawud) Peserta mengikuti kajian dengan antusias, interaktif, dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai : 1. Bagaimana hukum memasukkan air kedalam hidung pada saat berpuasa? Jawab: Istinsyaq termasuk hal-hal yang harus dijauhi selama berpuasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw : Dari Latigh bin Saburah r.a ia berkata: saya berkata : Hai Rasulullah terangkanlah kepadaku tentang wudhu. Rasulullah Saw bersabda: Ratakanlaj air wudhu dan sela selailah jari-jarimu, dan keraskanlah dalam menghirup air dalam hidung, kecuali jika engkau sedang puasa( HR Al Khamsah) 2. Bagaimana hukum mencicipi makanan pada saat puasa ? Wanita boleh mencicipi makanan jika hal itu dibutuhkan. Hal tersebut tidak membatalkan puasa selama makanan tersebut tidak sampai ke dalam lambung. Terdapat riwayat dari Al Hasan al Bashri ra, bahwa "Beliau berpandangan bahwa seorang yang berpuasa boleh mencicipi madu, minyak samin dan yang sejenis kemudian meludahkannya( HR Ibnu Abi Syaibah) Namun Ibnu Taimiyah ra mengatakan : Mencicipi makanan hukumnya makruh jika dilakukan tanpa ada kebutuhan. Namun tidaklah membatalkan puasa. (Al Fatawa al kubra) Sumber: Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Shared Post: