'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Muhasabah Diri Edisi Ramadan Hari ke-21 - Lima Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadan
14 Mei 2020 15:32 WIB | dibaca 421

Sebagaimana kita ketahui bersama Ramadan memang bulan istimewa. Bulan penuh makna, hikmah dan “keajaiban”. Semua itu tidak terdapat pada bulan yang lain. Sehingga ramadan diberi julukan sebagai sayyidus syuhur atau penghulunya bulan. Tidak heran, karena di dalam bulan suci itu terkandung kedalaman makna spiritual maupun sosial.

Sebuah makna yang menyatukan antara aspek lahiriyah dan bathiniyah, spiritual dan material, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Sehingga segala aktifitas di dalamnya memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan bulan-bulan selainnya.

Wajar kalau Rasulullah SAW., para sahabat, dan orang-orang saleh terdahulu senantiasa menjadikan ramadan sebagai momen untuk ‘mengeruk’ sebanyak-banyaknya keuntungan pahala dengan semakin meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah.

Apalagi pada 10 malam  terakhir, Rasulullah SAW. yang kemudian diikuti oleh para sahabat lebih menggiatkan lagi ibadahnya. Aisyah ra. mengatakan:

« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ».

Rasulullah SAW. sangat giat beribadah di bulan Ramadan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya. (HR. Muslim)

Keutamaan-keutamaan yang terdapat pada 10 malam terakhir bulan ramadan telah banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Diantaranya,

Pertama; terjadinya Lailatul Qadr yang merupakan malam diturunkannya Al-Qur’an dan dicatatnya di Lauhul Mahfudz seluruh perkara yang akan terjadi di muka bumi pada tahun tersebut.

Rasulullah SAW. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan Lailatul Qadr pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:

 « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».

"Carilah Lailatul Qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan". (HR. Bukhori)

Kedua; orang yang beribadah shalat pada malam Lailatul Qadr maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Dan barangsiapa yang berdiri (shalat sunat) pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadan)

Ketiga; segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya.
Apalagi jika bertepatan dengan lailatul qadr maka satu amalan kebaikan pahalanya lebih baik dari amalan kebaikan yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Allah SWT, berfirman :

malam kemuliaan (lailatul qadr) itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 3)

Sayyid Thanthawi dalam Al-Wasith menjelaskan, Lailatul Qadr lebih utama dari seribu bulan karena pada saat itu diturunkan Al-Qur’an yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan karena ibadah pada malam itu lebih banyak pahalanya dan lebih besar  keutamaannya dari ibadah berbulan-bulan tanpa Lailatul Qadr.

Keempat; Allah tidak mentaqdirkan selain keselamatan pada malam Lailatul Qadr itu.
Dimana hal ini tidak terjadi pada malam-malam lainnya yang terdapat keselamatan dan bencana. Pada malam itu pula para malaikat menyampaikan ucapan selamat kepada orang-orang beriman sampai terbitnya fajar. Penjelasan tersebut disampaikan An-Nasafi dalam Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil dan Az Zamakhsyari dalam Al Kasysyaf, ketika keduanya menafsirkan ayat ke 5 dari surat Al Qadr.

Kelima; Menggapai Keutamaan yang ada di dalamnya.
Dengan kegiatan itu kita akan menggapai keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya. Dan kita akan meraihnya secara penuh jika ada kesungguhan untuk melaksanakannya. Rasulullah SAW. dan para sahabat ra. telah mencontohkan aktifitas ibadah yang penting dilakukan pada saat malam-malam tersebut diantaranya  Iktikaf yaitu  diam di masjid dengan niat yang khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah SAW. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadan. Ibnu Umar ra. Berkata:

« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ   العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ »

Rasulullah SAW. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. (HR. Mutafaq ‘alaih)

Semoga kita semua bisa memperoleh lima keutamaan di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan sehingga dimudahkan dapat berkumpul.bersama di Jannah. Aamiin...

 

Dipublish oleh : LPPA Karanganyar

Shared Post:
Berita Terbaru