'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Mobilitas Fasilitator Desa SSR 'Aisyiyah Karanganyar dalam Moralitas Kemasyarakatan
23 Juli 2020 11:02 WIB | dibaca 282

(Kamis, 23 Juli 2020) Desa bergerak seiring laju tumbuh kembang masing-masing dinamika yang menyertainya. Tidak terkecuali pada isu kesehatan yang bisa kapan saja muncul sebagai permasalahan hidup di tengah keberadaan masyarakat desa yang sedang berkembang. minimnya kesadaran hingga minimnya informasi kesehatan khususnya dalam hal TBC menjadi salah satu tantangan yang tidak dapat dipandang sebelah mata oleh para warga desa. Kabupaten Karanganyar sebagai salah satu kabupaten yang memiliki wilayah desa dalam administrasi pemerintahannya, tak luput dari terpaan masalah di atas. Beruntungnya bagi warga Kabupaten Karanganyar, dengan adanya Pimpinan Daerah Aisyiyah Karanganyar melalui SSR-nya yang berkomitmen dalam penanggulangan TBC, menjadi pencerah secercah harapan untuk upaya dan usaha merubah kondisi-kondisi di atas.

SSR Aisyiyah Karanganyar dengan segala program yang dimiliki salah satunya melalui program intervensi desa (pendampingan desa), sedikit demi sedikit mulai merambah ke level yang lebih dalam lagi yakni hingga ke pelosok desa-desa. Untuk Round 2020 ini, tercatat ada tiga desa dampingan dari SSR Aisyiyah Karanganyar yang akan didampingi ke arah penanggulangan TBC berbasis masyarakat desa. Ketiga desa tersebut yakni Desa Jumapolo, Desa Ngijo, dan Desa Nangsri. Sebagai langkah awal masuk ke desa-desa tersebut, SSR Aisyiyah Karanganyar melalui peran serta Fasilitator Desanya mulai melakukan telaah kasus yang dikenal dengan Analisis Situasi TB untuk Desa Dampingan. Kegiatan ini dilakukan bulan Juli 2020 ini dengan target waktu yakni Kamis 23 Juli 2020. Shubuha Pilar Naredia, M.Si selaku koordinator program SSR menerangkan bahwa "Kegiatan Ansit TB Desa ini sendiri merupakan kegiatan penilaian awal untuk baseline data program. Secara khusus, Analisa program ini akan mengumpulkan informasi utama dari kelompok terdampak TBC (pasien, keluarga pasien dan penyitas TBC) dan informasi pendukung lainnya dari tenaga kesehatan, pihak terkait lainnya dan masyarakat desa pada umumnya".

Lebih lanjut, Darsih, Amd. Keb. selaku Kepala SSR dalam arahan kegiatannya menambahkan bahwa "Bentuk dari assessment/Ansit TB Desa ini adalah survey, wawancara dan observasi terkait persoalan TBC mulai dari besaran masalah TBC, tantangan pasien TBC dalam mengakses layanan kesehatan dan proses pengobatan, hingga pengetahuan dan sikap masyarakat serta pemerintah desa terkait kondisi dan program TBC yang ada di desanya masing-masing." Secara umum, kegiatan yang dijalankan masing-masing fasilitator desa bekerjasama dengan Pimpinan Cabang Aisyiyah setempat bertujuan untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi kelompok terdampak TBC (pasien, keluarga dan penyitas TBC) dalam proses pengobatan, khususnya dalam konteks sosial ekonomi dari kondisi pasien TBC; mengidentifikasi indeks stigma dan diskriminasi terhadap kelompok terdampak TBC di tingkat desa; membuat profil desa terkait besaran masalah TBC di tingkat desa; mengidentifikasi rumusan masalah dari persoalan TBC dan persoalan yang terkait TBC (gizi,sanitasi, gender) di tingkat desa. Semoga upaya serta usaha yang mulia untuk berbakti serta berbudi pada masyarakat desa ini diberi kemudahan, desa-desa menjadi tanggap TBC sesuai dengan salah satu arah pergerakan 'Aisyiyah yakni gerakan kemanusiaan yang berkemajuan dimulai dari keluarga dan desa.

(Efika NS/FA SSR)

Shared Post:
Berita Terbaru