'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Merekonstruksi Piranti Pendidikan Melampaui Batas Kewajaran
16 Juli 2020 05:44 WIB | dibaca 254

Pada hari Ahad Legi, 12 Juli 2020 menjadi hari yang bersejarah untuk Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Karanganyar beserta  Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu Karanganyar. Ibu Dra. Kunthi Basthona sebagai ketua ‘Aisyiyah Kabupaten Karanganyar dan  Perguruan Muhammadiyah Colomadu dikomandani oleh Bu Arum D. Ripdianti telah melaksanakan perhelatan akbar yang mempesona dan membahana. Acara yang dikemas cantik,  bertajuk  National Symposium Education ini, dengan mengambil tema Rancang Bangun Pembelajaran Online. Aroma simposium ini telah tercium ke seluruh penjuru tanah air. Terutama di WhatsApp group IRo. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sambil memasak hidangan akhir pekan untuk keluarga, chat saya terkirim pada WA pribadi  Bu Arum. Dalam hitungan menit Sang Srikandi itupun membalas chat  saya. Sebagai narahubung Bu Arum mempersilahkan saya untuk bergabung pada pukul 08.30 WIB. Ini sebuah hadiyah kejutan di pagi hari,  keberuntungan yang tiada akhir untuk menimba ilmu melalui zoom. Saya telah bergabung sebelum acara tersebut dimulai. Bu Donna sang motivator parenting nasional menggawangi acara ini  sebagai moderator. Pengalaman dan kiprah Bu Donna di kancah nasional menjadikan suasana simposium sangat hidup dan hangat. Tak lupa dihadirkan Sang Zoom Keeper dari Gondanglegi Malang, Ustadz Munali. Peserta yang hadir dari seluruh pelosok tanah air.

 
Simposium Spesial ini menghadirkan empat pemateri diantaranya Sang Maestro, Prof. Dr. Eng.  Imam Robandi (Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)  di Surabaya sebagai Keynote Speaker. Dari materi pertama yang disuguhkan Prof. Imam pada peserta adalah Technology for Learning in School. Dalam pengantar materi Sekretaris Dewan Profesor ini memberikan analog tentang jual beli sayuran di Inggris. Di mana penjual dan pembeli tidak saling bertemu.  Pemesanan barang dilakukan   dengan teknologi kekinian. Namun dampaknya sangat luar biasa, peminat sayuran mengalami penurunan secara signifikan. 
 
Terdapat tiga komponen ketika  Memasuki Era Baru yaitu, pertama, Teknologi, anak muda akan dengan cepat merespon kemajuan teknologi di bandingkan generasi yang sudah berumur.  Kedua, Pendidikan, menjadi Guru yang memiliki kecakapan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Ada beberapa alasan diantaranya, apakah materi yang dibahas dipelajari orang tua, harus diamati dan mana yang harus disapa.  Dan yang ketiga Budaya, terdapat fasilitas teknologi yang harus dikuasai oleh guru. Fasilitas teknologi itu antara lain: Internet, Gadget, Power Point, Graphis Design, Visual Design, Microsoft Classroom, Webex, Google Ms Word dan Visual.
Tentu semua ini diperlukan sebuah perubahan cara pandang besar-besaran. Merombak perubahan itu melalui Manajemen Sekolah, Menata Kurikulum, Metode Pembelajaran, Keadaan dan Kemampuan Guru, Keadaan/Kemampuan anak, Keadaan/kemampuan orang tua siswa dan yang terakhir Lingkungan Orang tua dan siswa bertinggal. 
 
Selain itu hal penting yang harus dilakukan guru adalah evaluasi, bagaimana capaian pembejaran berlangsung sesuai waktu yang telah ditentukan. Yang tidak boleh terlupakan adalah melaksanakan parenting. Sebab sekolah tidak hanya memintarkan murid saja. Akan tetapi orang tua murid juga harus dipintarkan. 
 Di karenakan padatnya acara Prof. Imam, kran tanya jawab dimulai.dari Bu Heriyanti, Kepala Sekolah  Mugabrajan Yogyakarta berkesempatan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu tentang kondisi sekolah  yang dipimpinnya. Kemudian mengenai pemetaan materi pembelajaran dan pendampingan yang dilakukan oleh Tim IT sekolah pada guru yang belum mahir teknologi, apakah hal tersebut sudah tepat sasaran?  Selanjutnya ulasan jawaban disampaikan Profesor Imam bahwa setiap kesulitan membawa dampak internasionalisasi, orang tidak berjumpa, guru harus dilatih mandiri dan yang berikutnya komunikasi dua arah  harus dibangun secara baik, selaras dan seimbang.   Bu Mardina dari Bukittinggi menjadi penanya kedua, yang menjadi permasalahan sang guru cantik ini adalah mengenai metode pembelajaran baik secara  Luring maupun Daring. Kondisi yang terjadi di sekolah bu Dina dari 31 siswa SD yang aktif hanya 10 anak. Kemudian Prof. Imam mengungkapkan bahwa kita tidak menuntut semua  mampu dan bisa dalam kondisi seperti ini. Posisi tawar tentang pemahaman dan temperatur pembelajaran dengan posisi diturunkan. Kemudian kita harus mencari bentuk ideal pembelajaran.
 
Bu Kunti dalam sambutan menyampaikan bahwa Bu Arum termasuk anggota ‘Aisyiyah. Amal Usaha ‘Aisyiyah (AUA) yang tersebar di Kabupaten Karanganyar mencapai 44 Kelompok Bermain (KB), 83 Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) dan 1 Sekolah Dasar (SD) Surya Ceria. Pada masa pandemi ini, sistem pembelajaran masih mencari bentuk, kesiapan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) masih kurang. Hubungan interaksi secara emosional penting dilakukan dan dijaga, pembelajaran tidak hanya transfer afektif. 
 
 
 Acara Simposium Nasional ini, juga menghadirkan tiga Invited Speaker, yaitu:
(1) Dr. Mulyana AZ (Guru Besar SD Muhammadiyah 34 sekaligus sebagai dosen di Univesitas Muhammadiyah  Surabaya.,
(2) Ali Musyafa, S. Ag. M. M. (Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro, Lampung
(3) Imam Romzan Fauzan (SMP Muhammadiyah Kebumen).
 
Pak Mulyana menyampaikan materi yang berjudul tentang Rancang Bangun Pembelajaran Online. Guru Besar UM Surabaya itu memantik peserta dengan sebuah pertanyaan, bagaimana membuat rancangan Sekolah Muhammadiyah ke depan? Baiklah ada 3 (tiga) hal pengertian yang harus dipahami, (1) Rancang bangun dapat diartikan menciptakan sesuatu dari yang belum ada menjadi ada, (2) Orang yang dapat merancang adalh mereka yang memiliki kemauan, dan yang ke (3) Kepala sekolah dan guru yang mampu merancang bangun pembelajaran dengan baik adalah mereka yang memiliki jiwa pemimpin (leadership). Dua dimensi antara sinergi dan kolaborasi yang hebat dan luar biasa adalah buah kepemimpinan yang baik. Peran kepemimpinan menjadi sangat penting. Leaders adalah mereka yang terdepan dan berani menentukan. Sekolah Muhammadiyah harus menjadi barometer peradaban dengan inspirasi dan inovasi. Unsur Pembelajaran Daring yang efektif, menarik dan simple yaitu dengan memperhatikan keberadaan lingkungan. Metode Daring akan menjadi budaya, maka mengelola Daring dengan baik akan menjadi brand sebuah sekolah. Semua sepakat bahwa guru sebagai subyek utama perubahan pendidikan. Selain itu, rekayasa pembelajaran online bagian dari sebuah perubahan.Sekolah yang tidak mengikuti perubahan maka akan mati.
 
Menurut dosen Psikologi ini bahwa merancang Pembelajaran Online kuncinya ada pada mental yang merancang. Mental/mentalitas bermakna sebuah cara berpikir atau konsep pemikiran manusia untuk dapat belajar dan merespons suatu hal. Mental merupakan kata lain dari pikiran, maka menata mentalitas itu penting. Selanjutnya Pak Mul, mengulas Bahwa Daring menarik dan menantang. Maka guru harus memiliki mimpi dan ide besar, tidak takut mencoba, selalu meningkatkan kemampuan, tidak meremehkan orang lain dan tidak pernah menyerah. Jadilah mental pemenang. Oleh karena itu konsep mental harus menata emosi dan pola berpikir. 
 
Pemateri berikutnya Pak Ali Musyafa, S. Ag., M. M. memaparkan awal perjalanan kepemimpinan selama 5 (lima) tahun menjadi kepala sekolah. Pak Ali juga meotret Strategi Tumbuh, Bertahan dan Memelihara pelanggan (wali murid) Sekolah Muhammadiyah harus bersiap menghadapi resiko yang terburuk sekalipun. Strategi harus dirancang dengan baik ibarat membangun, bagaimana membangun tumbuh secara cepat? Bertahan di tengah ketidakpastian dan Memelihara kepercayaan. Konsep sekolah harus jelas. Semua harus holistik atau terintegrasi. 
Budaya kerja yang dibangun berdasarkan pada kerja keras, dimana kerja melampau batas kewajaran, pantang menyerah dan konsisten. Tumbuhkan atmosfer juara, mental petarung. Maka sebagai kepala sekolah harus memberikan contoh dan tauladan yang terbaik. Masih di penjabaran Pak Ali tentang bagaimana bertahan di tengah ketidak pastian. Maka cara yang paling aman adalah kreatif dan inovatif (menemukan jalan kesuksesan), memenfaatkan tantangan menjadi peluang, tentukan skala prioritas dan rawat dan jaga kepercayaan. Selanjutnya Pak Ali menggarisbawahi bagaimana cara memelihara, ada 3 hal yaitu; service excellent, komunikasi dan ciptakan benefit atau nilai tambah.
 
Sebagai pemateri pamungkas adalah Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Kebumen, Bapak Imam Romzan. Pak Imam menjabat sebagai kepala sekolah 2 periode 2015 sampai 2020. Rancang Bangun Pembelajaran Online tema materi, Pak Imam. Sekolah Muhammadiyah yang dikelola Pak Imam terdiri dari kelas ICT, Tahfidz dan Sains. Cukup banyak prestasi yang diraih dalam kurun waktu 5 tahun yang lalu. Langkah-langkah yang harus ditempuh menuju Pembelajaran online dengan cara, pemetaan, organisasi kelas, melatih guru supaya memiliki mentalitas yang baik dan menyiapkan perangkat atau aplikasi. Pak Imam juga mengatakan bahwa persiapan adalah setengah dari keberhasilan. Kemudian ditambahkan tentang disrupsi teknologi di dunia pendidikan saat Covid-19, baik sebelum maupun sesudah.In House Trainning (IHT) orang tua juga sangat penting sebagai support aplikasi. Di samping itu Melatih guru dalam pelatihan yaitu IHT, Trial Class. Tutor Sebaya dan bermain peran dan cara menyimpan di dalam Google Drive.
 
Diskusi kembali berkembang,  sebagai penanya  Bapak Surasa dari Klaten tentang program rancang bangun adalah  peremajaan dari yang tua yang dapat ngegas (generas imuda) dan ngerem (generasi tua). Pak Ali menambahkan tentang resep nakal yaitu lebih baik minta maaf daripada minta izin. Berita baik ini sebagai titik tekan supaya ada perencanaan yang matang dan terukur.  Pak Imam juga menambahkan tentang buku panduan untuk Daring, buku tersebut harus disosialisasikan pada masyarakat. Kiat Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang di lakukan pada sekolah Pak Ali adalah agenda tersebut pekerjaan sepanjang tahun. Performa sekolah dilakukan di sepanjang waktu. Perlu dipahami bahwa PPDB bukan sesuatu yang instan. Dan seluruh aktifitas materi sepanjang tahun dikemas menjadi cantik, manis dan disosialisasikan pada masyarakat. Ada sekelumit catatan penting bahwa menjadi kepala sekolah harus “Gila” di jalan yang sehat. Di samping itu telaah hukum juga penting dilakukan.
 
Tuntas sudah forum ini berlangsung dengan mulus dan berdurasi 3,5 jam. Tentu banyak manfaat dan hikmah yang terkandung. Melalui sebuah catatan kecil  ini, didedikasikan kepada para pejuang ilmu (guru) Indonesia yang esok pagi akan kembali bertugas dan beraktifitas di tahun pelajaran baru. Terima kasih, yang tulus kepada Prof. Imam, Pak Mulyana, Pak Ali Musyafa, Pak Imam Romzan, Bu Arum dan Ustad Munali atas ilmu dan perjuangannya. 
 
 
Pojok Kukilo, 22 Dzulqa’dah 1441 H./ 12 Juli 2020
 
Sunarti Aldemaky
Pembelajar dari  Kota Semarang
-------------------------------------------

Redaktur : LPPA PDA Karanganyar
Shared Post:
Berita Terbaru