'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Masifkan Penanganan TBC, SSR Aisyiyah Karanganyar Optimalkan Coordination Meeting with Sub District for Active Case Finding Base on Contact Investigation
15 April 2019 13:29 WIB | dibaca 90

Karanganyar, 13 April 2019. Pelaksanaan penemuan kasus TBC melalui investigasi kontak sebagai indikator utama dari keberhasilan program perlu didukung semua pihak. Agar pelaksanaan investigasi kontak berjalan dengan efektif diperlukan kordinasi antara pihak seperti kecamatan dan perwakilan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM). Maka, Kegiatan koordinasi dengan pihak kecamatan adalah sebagai langkah awal yang penting sebelum memulai kegiatan investigasi kontak.

 

Menyadari pentingnya hal tersebut, SSR Aisyiyah Karanganyar tergerak untuk melakukan pertemuan tersebut. "Pertemuan ini sebagai koordinasi antara SSR dengan kecamatan untuk memberikan informasi terkait kegiatan investigasi kontak yang dilakukan oleh kader komunitas" demikian penjelasan Koordinator Program Shubuha Pilar Naredia, M.Si dalam laporannya kepada Kepala SSR Darsih, Amd. Keb. SSR mengetahui sumber daya (jumlah kasus, jumlah kader, PMO) yang ada di kecamatan daerah intervensi sebagai bekal pelaksanaan investigasi kontak, fungsinya untuk mendapatkan informasi dari kecamatan tentang kondisi area intervensi, menyampaikan data-data pasien yang akan dikunjungi oleh kader dalam program investigasi kontak, serta melakukan pemetaaan kasus indeks untuk melakukan investigasi kontak.

Pertemuan yang diadakan di tingkat kecamatan dengan durasi 1 hari ini dimulai sejak tanggal 6 April 2019 sampai dengan 13 April 2019. Dalam kunjungannya, tim SSR berkordinasi dengan pihak kecamatan (yang mempunyai kasus indeks) dengan membuat materi  (Bahan tayang program NIP) dan menyampaikan kepada kecamatan dan PKM terkait kegiatan investigasi kontak.

Peserta dalam kegiatan ini terdiri dari 6 orang yaitu 1 orang perwakilan dari kecamatan, 1 orang perwakilan PCA, 2 orang perwakilan PKM (Ka PKM dan Wasor), 1 orang perwakilan dari PDA, serta 1 orang perwakilan kader (kordinator kader). Pada akhir kegiatan, menghasilkan adanya distribusi informasi kepada pihak kecamatan terkait rencana Investigasi Kontak, adanya peta indeks kasus yang akan dijadikan investigasi kontak oleh kader, hingga adanya solusi terkait permasalahan yang ditemukan pada saat pelaksanaan investigasi kontak.

Shared Post: