'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
MAJELIS TABLIGH PIMPINAN DAERAH AISYIYAH KARANGANYAR, Mengajak Memilih Pimpinan Sesuai Syariat Islam
16 April 2019 10:32 WIB | dibaca 291

Ummie Masruroh Saat Menyampaikan Kajian di PRA Gebyok

Pada kajian PRA Gebyok , kemarin, Kamis 11 April 2019 jam 16.00-15.00 di masjid Baiturahim Gebyok Mojogedang, Ummie Masrurah menuturkan memilih pemimpin bagian dari urusan dunia dan akhirat yang sangat penting. Dalam memilih pemimpin ada persyaratan yang layak untuk dipilih sebagai pemimpin. Memilih pemimpin hukumnya wajib.

Rasulullah bersabda yang artinya " Tidaklah halal bagi tiga orang yang berada dalam satu kawasan atau dalam sebuah perjalanan di daratan yang luas, kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin( HR Ahmad) Tiga orang saja harus ada yang memimpin apalagi satu bangsa yang jumlah penduduk hampir 250 juta . Allah juga telah memberi petunjuk dalam memilih pemimpin di level apa pun, sebagaimana dalam surat Al Maidah ayat 55 sebagai berikut : اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رَاكِعُوْنَ "Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 55) Inti ayat, persyaratan memilih pemimpin antara lain: 1. Pemimpin yang beriman kepada Allah ( mukmin) dan beragama islam yang baik ( muslim). Pemimpin yang mempunyai kepribadian kuat, amanah, jujur dan berakhlak mulia, patut menjadi teladan rakyat dan umatnya. Pemimpin yang amanah akan berusaha sekuat tenaga untuk mensejahterakan rakyatnya, sebaliknya pemimpin yang khianat sibuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kolega-koleganya. 2. Pemimpin yang rajin menegakkan shalat. Shalat merupakan barometer akhlak manusia karena dengan shalat melahirkan tanggung jawab. Kesadaran tauhid atau keimanan dibangun melalui shalat. 3. Pemimpin yan rajin menunaikan zakat dan sedekah. Zakat itu bukan membersihkan harta yang kotor, melainkan membersihkan harta kita yang bersih dari hak orang lain. Pemimpin yang rajin zakat dan berinfak tidak akan korupsi, karena ia yakin Allah sudah menjamin rizkinya dan rizki yang halal lebih baik daripada rizki yang haram. 4. Pemimpin yang suka berjama'ah. Pemimpin yang suka bergaul dengan masyarakat, berusaha mengetahui keadaan rakyatnya dan mencari jalan keluar atas persoalan persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Sifat suka berjama'ah ini ditunjukkan dalam shalat fardhu berjama'ah. Rasulullah setelah shalat fardhu berjama'ah lalu duduk menghadap kepada jama'ahnya. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kondisi jama'ah, apabila ada jama'ah yang sakit Rasulullah bersama sahabatnya menjenguk orang yang sakit tersebut.

Syarat syarat lain diantaranya memiliki kapabilitas dan kompetensi, memahami aspirasi umat islam, khusus bagi warga Muhammadiyah memilih pemimpin yang mendukung dakwah anar ma'ruf nahi munkar.

(Sumber :kajian tarjih dan Ceramah Prof Dr KH Didin Hafidhuddin)

Shared Post: