'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Home Visit, Sebuah Layanan Baru di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Ceporan di Masa Pandemi Covid-19
18 Juli 2020 05:13 WIB | dibaca 903

Situasi pandemi telah memaksa dunia pendidikan kita mengubah paradigma pendidikan dari pendidikan berbasis sekolah (school-based education) menjadi pendidikan berbasis komunitas (community-based education). Belajar Dari Rumah (BDR) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)  merupakan implementasi dari paradigma pendidikan berbasis komunitas. Landasan pendidikan berbasis komunitas dapat dirunut pada pasal 4 ayat 6 UU Sisdiknas 2003,“pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan”.

Prinsip belajar bermakna dalam pendidikan berbasis komunitas menjadi hal yang paling inti dari proses pembelajaran. Idealnya BDR dan PJJ yang dilaksanakan pada masa pandemi ini dapat memenuhi prinsip-prinsip tersebut. dealitas pelaksanaan BDR dan PJJ pada masa kemormalan baru, secara umum masih mengalami beberapa permasalahan, antara lain: keterbatasan sarana dan prasarana terutama di sekolah-sekolah tertentu, keterputusan kolaborasi antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat, ketidaksiapan guru dan sekolah, dan kebiasaan belajar siswa yang belum mendukung. Keterbatasan sarana dan prasarana banyak dialami oleh sekolah-sekolah di pedesaan maupun daerah jauh akses lainnya, berupa sulitnya jaringan internet, keterbatasan perangkat gawai atau komputer, maupun kurangnya dana. Selain hal tersebut sering juga muncul suara suara sumbang bernada underestimate pada kinerja guru di masa pandemi ini, seperti “Kerja guru di masa pandemi gini apa sih. Kan peserta didik udah belajar sendiri di rumah. Kuota internetnya juga beli sendiri.
 
Penulis sendiri sebagai guru di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Ceporan juga melakukan kegiatan pembelajaran BDR via Group Whatssapp orang tua murid. di masa pandemi sejak pertengahan Maret 2020  Sedih juga ketika mendengar  ada yang tega mengatakan hal seperti itu Tak habis pikir juga mengapa  ada yang tega menghakimi  guru seperti itu.. Tapi buat apa kami para guru menghabiskan waktu memikirkan pandangan seperti itu karena yang ada malah bisa menurunkan imun kita.
 
Padahal mana mereka tahu bagaimana 'sepaneng' nya kami menyiapkan program pembelajaran semester yang berbeda dari biasanya dan menyulap menjadi rencana pembelajaran mingguan yang ringkas padat tapi meliputi semua lingkup perkembangan anak. “Kenapa harus singkat padat tapi jelas menyeluruh?  Karena pelaksana rencana pembelajaran itu bukan kami, para guru tapi para orang tua sehingga kami harus benar benar memastikan bahwa orang tua bisa memahami dan mengimplementasikan semua program yang kami rencanakan.
 
Dan setiap saat sebelum berangkat tidur selalu kami harus sudah menyiapkan dan memastikan semua peralatan tempur kami untuk pembejaran besok berupa video dan berbagai macam alat tempur lain. Lalu bagaimana metode pembelajaran kami? Kami adalah guru TK di daerah pedesaan. Menurut aturan metode pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 ini adalah metode daring (dalam jaringan). Masalah pun menghadang ketika tidak semua wali murid memiki handphone yang bisa terkoneksi internet.... Maka inilah kami... Maka beginilah solusi kami. Kami "terpaksa" mengambil putusan memakai 2 metode layanan: online dan home visit. Why? Because we have to! Yaa, kami terpaksa melakukan.
 
Sebuah keterpaksaaan yang membawa nikmat. Yah....bagaimana tidak disebut nikmat yang tiada tara ketika kami akhirnya bisa melihat binar mata polos anak anak menyambut kami dan antusiasme para orang tua menyediakan tempat bagi kami melaksanakan pembelajaran home visit. Antusiasme orang tua sebenarnya juga sudah ditunjukkan saat mereka selalu sigap membantu guru membimbing putera puteri mereka mengerjakan tugas online setiap hari. Tapi kami harus adil dengan memberi kesempatan bagi mereka yang tidak mempunyai handphone sebagai alat BDR dan PJJ. Akhirnya kami melaksanakan layanan home visit dengan ketentuan minggu pertama ini setiap anak mendapat kesempatan 1 kali dalam\ satu pekan. Anak dimasukkan dalam satu kelompok dalam satu area yang tidak boleh lebih dari 7 orang. 
 
Dan…... 
 
Dalam keterpaksaan penuh nikmat itu tentu saja kami tidak boleh melupakan kewajiban setiap insan di masa pandemi Covid-19 ini. What's that?  Yaaa, pelaksanaan protokol kesehatan dengan masker, faceshield, hand sanitizer dan social distancing ...
 
So...here we are....
 
 
 
 
 
Setiap hari selepas Shubuh kami menyiapkan redaksi tugas online yang harus kami kirimkan kepada orang tua baik berupa teks atau video meliputi penjelasan tentang tema sub tema, nama kegiatan, alat dan bahan, serta langkah pelaksanaan kegiatan. Kami juga harus mengirimkan contoh gambar langkah dan contoh hasil karya agar orang tua lebih memahami maksud tugas.
 
Sesudah itu kami harus bersiap untuk menjadi pasukan home visit yang harus ready setiap saat. Selepas itu semua kami harus menghandle kiriman dokumentasi kegiatan anak baik berupa video atau foto dari orang tua yang tentu saja harus segera kami download untuk kemudian kami analisis sebagai bahan penilaian perkembangan anak.
 
Sumber : TK Aisyiyah Bustanul Atfal Ceporan
Redaktur : LPPA PDA Karanganyar
Shared Post:
Berita Terbaru